RADARJOGJA.CO.ID – Untuk pertama kalinya, angka inflasi bulanan di atas 0,5 persen (mom), sejak September 2016. Bahkan, angka tersebut melebihi angka inflasi pada periode Idul Fitri 2016.

“Inflasi terjadi disebabkan kenaikan tarif transportasi, komunikasi, perumahan, bahan pangan, dan jasa keuangan. Di sisi lain, harga cabai merah dan bawang merah mengalami penurunan harga,” kata Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean, Kamis (2/2).

Adrian mencatat, angka inflasi umum sebesar 3,49 persen (yoy) pada Januari 2017 atau 0,97 persen mom. Angka ini lebih tinggi dibanding inflasi Desember 2016 sebesar 3,02 persen (yoy) dan lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 3,11 persen.

Ia memaparkan, pada awal 2017, terjadi kenaikan beberapa harga yang diatur pemerintah. Seperti tarif dasar listrik 900 VA, bahan bakar non-subsidi, dan perpanjangan surat tanda nomor kendaraan (STNK), baik roda dua maupun roda empat. Selain itu, pulsa telepon ponsel juga mengalami kenaikan.

“Kenaikan yang terjadi pada tarif listrik ini merupakan konsekuensi pengurangan subsidi pemerintah. Pemerintah diharapkan meningkatkan pengeluarannya di awal tahun sebagai kompensasi pengurangan subsidi listrik,” tegasnya.

Pengeluaran pemerintah tersebut diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Jika pengeluaran pemerintah tidak dialokasikan, diperkirakan terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini.

Inflasi ini meningkat tajam pada Januari 2017, di mana berada pada 3,35 persen (yoy). Angka tersebut merupakan angka tertinggi setelah Juli 2016 yang sebesar 3,49 persen. “Mengindikasikan bergeraknya permintaan agregat di dalam negeri,” katanya.

Kenaikan inflasi, yang sebagian besar disebabkan harga yang diatur pemerintah ini, diprediksi bersifat sementara hingga enam bulan ke depan. Ada kecenderungan harga minyak dunia yang diperkirakan mulai meningkat pada akhir 2016. Kenyataannya, menunjukkan kenaikan yang tersendat. Bahkan ada tekanan menurun dalam beberapa hari di Januari 2017.

“Kami memprediksi suku bunga acuan Bank Indonesia tetap pada angka 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur BI yang akan diadakan pada 15 – 16 Februari 2017,” katanya.(hes/dem)