PURWOREJO- Peredaran obat-obatan ilegal yang berhasil diungkap aparat di sebuah gudang obat di Sleman cukup menghebohkan daerah di wilayah DIJ dan sekitarnya.

Kasi Farmasi Makanan Minuman dan Apoteker, Dinas Kesehatan Purworejo Triyanto memastikan tak ada obat ilegal asal Sleman yang beredar di wilayahnya. Dia memastikan, setiap obat yang didistribusikan ke puskesmas dilengkapi bukti administrasi resmi.

Kepastian itu menyusul hasil monitoring di puskesmas-puskesmas untuk keperluan pemenuhan
kebutuhan obat selama dua bulan terakhir. “Ini kebetulan saja. Monitoring tidak ada kaitannya dengan peredaran obat ilegal tersebut,” katanya kemarin (15/9).

Diakui, dua jenis dari 10 obat ilegal yang ditemukan di Sleman merupakan obat yang sangat dibutuhkan. Tapi sulit diperoleh.

Dua obat tersebut adalah pemati rasa atau bius. Paling banyak dibutuhkan oleh dokter gigi atau klinik praktik khitan. Peredaran obat itu sangat terbatas. Khusus untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

“Obat-obat yang kami sediakan harus jelas legalitasnya. Jelas siapa yang memproduksi dan bertanggungjawab. Tidak sekadar mengambil obat tanpa ada kejelasan,” tegasnya.

Kendati demikian, Triyanto mengaku tidak mengetahui kemungkinan adanya dokter gigi praktik swasta
atau klinik khitan yang menggunakan obat tersebut. Alasannya, penggunaan obat di klinik swasta tak terpantau petugas Dinas Kesehatan.

Terpisah, drg Dwitya yang membuka praktik swasta menjamin keamanan obat yang diberikan kepada pasien. Dia tak pernah menggunakan obat-obatan ilegal yang kabarnya berasal dari Meksiko tersebut. “Kami hanya menggunakan produk lokal,” tegasnya.

Dikatakan, obat lokal legal justru berharga lebih murah dibanding obat-obatan ilegal yang dirazia di Sleman. (udi/yog/mg1)