Ki Sungkowo Harumbrodjo Konsisten Melestarikan Keris

Keris merupakan salah satu pusaka peninggalan nenek moyang yang adiluhung. Dibalik keindahan setiap corak, ada sosok empu yang menciptakan keris. Salah satunya adalah Ki Sungkowo Harumbrodjo yang terkenal sebagai empu keris dengan teknik tradisional.
DWI AGUS, Jogja
KERIS identik sebagai senjata saat berperang di masa lalu. Pemiliknya juga beragam, dari kalangan rakyat jelata, kesatria, bangsawan hingga raja. Saat ini keris menjadi salah satu benda pusaka. Ragam corak dan pamor keris menjadi kekayaan Nusantara sebagai identitas pusaka budaya Indonesia.

Keris-keris yang ada saat ini lebih banyak dianggap sebagai klangenan atau koleksi. Tak heran jika luk keris dibuat sedemikian rupa, begitu pula warangka-nya yang dihiasi beragam ukiran. Keindahan keris-keris yang ada selama ini tidak terlepas dari sosok empu (pembuat) keris.

Salah satu empu tradisional yang tetap bertahan hingga saat ini adalah Ki Sungkowo Harumbrodjo. Pria kelahiran Sleman, 1 Agustus 1953 ini bukan sembarang empu. Dia memiliki darah keturunan seorang empu era Kerajaan Majapahit, Empu Supa.

“Saya merupakan garis keturunan ke tujuh belas dari Empu Supa. Ini merupakan warisan turun temurun. Sebelumnya ada simbah saya, lalu ayah saya, Empu Djeno, kini diturunkan kepada saya,” ujarnya di Bangsal Kepatihan, Senin malam (22/8).

Berkat ketekunannya dalam membuat keris, dia mendapatkan penghargaan dari Dinas Kebudayaan DIJ. Gelar Pelestari Budaya Adat dan Tradisi diberikan langsung oleh Gubernur DIJ Hamengku Buwono X. Penghargaan ini diberikan atas konsistensi Ki Sungkowo melestarikan Keris Sengkelat, yakni keris luk tiga belas yang dibuat di masa Kerajaan Majapahit.

“Ini menambah semangat untuk menjaga pusaka budaya. Wujud nguri-uri kabudayan,” katanya.

Saat ini, lanjutnya, jumlah empu keris di Jogjakarta tidaklah banyak. Apalagi di era modern, tidak semua mau menggeluti profesi pengabdian sebagai empu keris.

Ki Sungkowo menuturkan awal mula memperdalam dunia keris. Di masa kecilnya, dia kerap membantu orang tuanya sebagai empu keris. Dari kebiasaan ini, dia lantas tertarik untuk memperdalam tekniknya.

Untuk membuat satu keris yang berkualitas tidaklah mudah dan singkat. Perlu perhitungan waktu, bahan baku hingga proses pembuatan yang lama. Rata-rata untuk sebuah keris, Ki Sungkowo bisa menghabiskan waktu kurang lebih satu bulan.

Bicara bahan baku, ternyata untuk membuat sebilah keris terbilang relatif. Jika hanya berbahan nikel, keris ini lebih cepat dihasilkan. Sebab, bahan baku ini tersedia melimpah dari berbagai sumber. Berbeda persoalan jika yang digunakan adalah batu meteor.

Ki Sungkowo menjelaskan, bahan baku ini sangat digemari oleh kolektor keris. Bahkan pada zaman dulu, keris dari batu meteor telah menjadi primadona bangsawan hingga keluarga kerajaan.

Namun untuk membuatnya tak mudah, karena sulit mendapatkan batu meteor. “Batu meteor yang digunakan tak hanya berasal dari Indonesia. Rata-rata para pemesan justru membawa batu meteor sendiri. Seperti dari Perancis, Jerman, Amerika dan lainnya,” ungkapnya.

Ki Sungkowo menjelaskan, saat ini di Jogjakarta masih memiliki batu meteor, kurang lebih dua kilogram dan tersimpan rapi di Keraton Jogja. “Keris itu adalah salah satu budaya yang sangat adiluhung. Ada makna dibalik pembuatannya yang penuh nilai kehidupan. Keris itu tidak selamanya klenik, jadi harus bangga memilikinya,” katanya. (ila/ong)