Zakki Mubarok/Radar Jogja
BERPRESTASI: Ketua KNPI Bantul Azhar Muhammad (kiri) saat melepas tiga anggotanya yang akan berangkat ke Kanada untuk belajar manajemen pengolahan daging sapi.

Setahun Full Belajar Manajemen Pengolahan Daging Sapi

Besarnya potensi peternakan di Bantul belum disertai fasilitas memadai. Fasilitas pengolahan daging, misalnya. Tiga pemuda anggota Komite Pemuda Nasional Indonesia (KNPI) Bantul pun bertekad memperbaikinya dengan berangkat ke Kanada untuk menimba ilmu di sana.

ZAKKI MUBAROK, Bantul
Suasana syawalan KNPI Bantul di salah satu rumah makan di Jalan Parangtritis Jumat (22/7) malam lalu, terasa istimewa. Tak sekadar menjadi ajang silaturahmi dan saling bermaaf-maafan. Agenda yang dikemas dengan penuh kesederhanaan itu juga diselingi dengan pelepasan tiga anggota KNPI.

Aura kebahagiaan, kebanggaan, dan rasa haru campur menjadi satu. Betapa tidak, tiga anggota organisasi yang menaungi berbagai perkumpulan pemuda se-Bantul ini dipercaya berangkat ke Kanada. Ketiganya adalah Deni Suryanto, 33; Totok Yunianto, 28; dan Ari Diyanto, 26.

“Se-Indonesia hanya ada enam orang. Yang tiga dari Bantul,” ucap Deni, bangga. Bukan tanpa tujuan. Keberangkatan ketiga pemuda pada 28 Juli ini untuk magang sekaligus ngangsu kawruh di pusat pengolahan daging di Kanada. Salah satu negara di Amerika utara yang terkenal dengan peternakan dan pengolahan daging.

Mengikuti program Cardiil Meet Solution, Kanada kerja sama dengan pemerintah Indonesia. Sehingga tak mengherankan seleksi program ini sangat selektif. Dari 26 pendaftar se-Indonesia, yang dinyatakan lolos seleksi hanya enam orang. “Setahun full berada di Kanada,” lanjutnya.

Deni, begitu pula dengan dua rekannya, punya misi pribadi. Sekaligus cita-cita besar memperbaiki manajemen peternakan dan pengolahan daging sapi di Bumi Projo Tamansari sepulang menimba ilmu. Deni melihat pengolahan daging di DIJ, khususnya di Bantul masih buruk. Manajemen dan pengelolaan rumah pemotongan hewan (RPH) masih ala kadarnya. Tidak seperti RPH di luar negeri. Salah satu dampak nyatanya adalah daging sapi hasil sembelihan tidak kuat bertahan lama. “Dua hari sudah rusak,” tutur bendahara KNPI Bantul ini.

Setali tiga uang, dengan manajemen peternakan. Deni membandingkan harga daging sapi di Indonesia dengan berbagai negara lainnya. Hasilnya, harga daging sapi di Indonesia paling mahal, berada di kisaran Rp 115 ribu-Rp 120 ribu per kilogram. Padahal, gaji pekerja di bidang ini paling rendah. “Pelakunya sudah tua-tua. Parahnya tidak ada regenerasi,” bebernya.

Pemuda asal Sumberagung, Jetis, ini meyakini amburadulnya industri peternakan dan pengolahan daging di Bantul ini bisa diperbaiki. Salah satu caranya dengan mendirikan RPH resmi seperti di Kanada atau Australia. “Saya pengin di Bantul ada RPH resmi,” lanjutnya.

Ketua KNPI Bantul Azhar Muhammad menambahkan, semula ada enam anggota KNPI yang mengikuti program ini. Hanya, tiga di antaranya gugur. Mayoritas karena terkendala kemampuan Bahasa Inggris. “KNPI memang punya program fasilitasi bagi seluruh anggotanya,” tambahnya.

Azhar berharap ketiga anggota KNPI pulang membawa banyak pengalaman dan menyalurkan ilmunya tentang manajemen peternakan dan pengolahan daging sapi. Agar dapat diterapkan di Bantul. (laz/ong)