SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA
KREASI BAHAN LOKAL: Ibu-ibu di Dusun Somadaran, Banyuraden, Gamping sedang membuat egg roll dari tepung singkong atau gaplek.

Manfaatkan Bahan Lokal, Harga Jauh Lebih Terjangkau

Kelompok usaha perajin makanan ringan banjir order setiap Lebaran tiba. Salah satunya kelompok ibu-ibu di Dusun Somadaran, Banyuraden, Gamping, Sleman yang membuat makanan ringan egg roll. Apa yang membedakan egg roll dari Somadaran ini dengan lainnya?
BAHANA, Sleman
MESKI Lebaran telah lewat, pembuat kue egg roll di Somadaran tetap sibuk. Tidak ada kata berhenti bagi pembuat kue rumahan itu. Sebab setelah Lebaran, pesanan tetap saja datang.

“Alhamdulillah, orderan masih banyak,” ujar ketua kelompok perajin egg roll Dusun Somadaran Sri Lestari, kemarin.

Makanan egg roll sendiri sudah cukup terkenal di masyarakat. Bahkan, kue berbentuk panjang dan empuk dikunyah ini banyak disajikan saat hari raya tiba. Namun, ada yang berbeda dari egg roll buatan ibu-ibu yang tergabung dalam usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera (UPPKS) Dusun Somodaran ini dengan yang lain.

Ya, jika kebanyakan egg roll mudah hancur saat dipegang, sehingga menyisakan remah-remah makanan di lantai. Hal itu berbeda dengan egg roll buatan para ibu rumah tangga ini. “Sebab, egg roll yang merupakan produk pabrikan hanya berbahan terigu saja,” jelas Sri.

Lalu apa yang membedakan egg roll kelompok perajin Somadaran? Ternyata, terletak pada bahan baku yang digunakan. Di Sodomaran, egg roll dibuat dengan menggunakan bahan baku tepung singkong atau tepung gaplek.

Dengan menggunakan tepung tersebut, egg roll tidak mudah hancur. Selain itu, egg roll yang dijual lebih murah karena tepung gaplek mudah didapat dan ekonomis.

“Egg roll dengan tepung gaplek tidak mudah rontok, tapi tetap lembut di mulut dan renyah,”” jelas Sri.

Pada Lebaran kemarin, pesanan banyak datang tidak hanya dari Sleman saja. Tetapi juga dari luar daerah. Jika hari biasa setiap bulannya laku 50 karton yang berisi 26 toples, sejak Ramadan kemarin pesanan meningkat hingga 200 karton sebulan.

Jumlah tersebut, menurutnya, sudah maksimal. Sebab, pengerjaannya masih menggunakan manual. Setiap proses pembuatan egg roll membutuhkan waktu sekitar satu menit.

“Dari proses memanaskan adonan sampai mencetak membentuk gulungan dikerjakan secara manual,” jelasnya.

Sir menuturkan, sejak didirikan pada 2007, perkembangan industri kecil ini semakin meningkat. Kini di Somadaran, tidak hanya memproduksi egg roll sebagai andalan. Ibu-ibu lain, juga memproduksi makanan ringan seperti donat. Untuk egg roll sendiri pada Lebaran kemarin tidak ada kenaikan harga. Egg roll buatan perajin, dijual dengan harga rata-rata Rp 37.500 per toples dengan isi 25 batang. (ila/ong)