MAGELANG – Keputusan Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang untuk merelokasi Pasar Minggu Pahing (Pahingan) terus menuai penolakan. Mereka yang kontra kebijakan pemerintah berasal dari berbagai elemen. Termasuk budayawan. Condro Bawono, salah satunya.

Budayawan yang lama berkiprah di Kota Jasa itu mengatakan bahwa Pahingan erat kaitannya dengan unsur spiritual, cultural, dan heritage. Relokasi heritage tidak bisa dilakukan meskipun ada keluhaan dari masyarakat. Menurutnya, pemkot justru harus bisa mendorong masyarakat agar sadar heritage. Condro mengingatkan pemerintah agar tak mengambil tindakan coba-coba terhadap persoalan tersebut.

“Jika konsep relokasi hanya coba-coba, itu sama saja pemkot mencoba memutuskan sejarah dan tradisi cultural,” ujar sosok yang akrab disapa Mbilung Sarawita kemarin (9/6).

Menurut Condro, ide percobaan itu lebih masuk akal jika subjek relokasi adalah pedagang kaki lima (PKL) yang sifatnya hanya berdagang.

Condro menegaskan bahwa Pahingan bukan sekadar perkumpulan para PKL. Tapi ada unsur historikal yang tak bisa lepas dari tradisi pengajian Minggu Pahing di Masjid Agung Kauman. Karena itu, meski konsepnya sebatas uji coba, kata Condro, hal itu tak bisa dibenarkan.

Apalagi jika objek relokasi di Lapangan Rindam IV/DIponegoro, yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari area Pahingan di Alun-Alun Kota Magelang. Condro menilai, kawasan Rindam yang merupakan zona car free day tiap hari Minggu tak ada kaitannya dengan niat dan itikad religius para PKL.

“Motivasi para pedagang (Pahingan) itu ngalap berkah dari pengajian. Bukan sekadar dagang. Soal laba rugi bukanlah yang utama bagi mereka,” imbuhnya.

Condro mencontohkan ritual Pasar Sekaten di Alun-Alun Utara Kota Jogja. Momen itu merupakan karya ikonik secara turun-temurun. Nah, Minggu Pahingan di Magelang ibarat selevel dengan Sekaten.

Condro meyakini bahwa hanya PKL yang murni berdagang dan hanya berorientasi ekonomi mau direlokasi ke Rindam. Mereka bukan pedagang asli Pahingan. “Makanya kami harus rewel. Ini untuk mempertahankannya,” lanjut Condro.(nia/yog/ong)