MAGELANG – Aksi penembakan dengan airsoft gun oleh orang tak dikenal di kawasan pecinan Jalan Pemuda dan Jalan Ikhlas, Kota Magelang, dikecam banyak pihak. Selain kriminalitas, teror terhadap para perempuan itu juga dinilai sebagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

Anggota DPRD Kota Magelang Stin Sahyutri Soekisno mengutuk aksi penembakan yang marak belakangan ini. “Ini mencelakai korbannya yang semuanya perempuan. Sama halnya melanggar HAM dan harus ditindak tegas,” kata Stin kemarin (26/4).

Persoalan HAM, lanjut Ketua Fraksi PDI Perjuangan Kota Magelang ini, karena para korbannya adalah warga sipil. Korban juga tengah beraktivitas seperti biasa, bukan untuk berbuat hal-hal yang merugikan masyarakat.

“Saya kira ini bukan persoalan dendam atau apalah kepada para korbannya. Tapi lebih pada aksi teror yang sengaja ingin merusak kondusivitas Kota Magelang. Apalagi kebanyakan korban adalah perempuan,” ujarnya.

Dia berharap Polres Magelang Kota segera berhasil menangkap pelakunya dan mengungkap motif di balik aksi yang meresahkan ini. Ia menilai, meski senjata yang dipergunakan pelaku adalah senapan angin dan tidak mematikan, tetap saja aksi itu membahayakan jika terkena organ vital tubuh. Bahkan membuat korbannya trauma.

“Harus dicermati pula karena ada dua kemungkinan, pelaku hanya sekadar cari sensasi atau memang ada indikasi untuk mengacaukan Kota Magelang yang sudah kondusif. Korban kemudian merasa tidak aman dan tidak nyaman beraktivitas,” ungkap Stin.

Sementara itu tokoh masyarakat Tionghoa yang tinggal di kawasan pecinan, Paul Candra Wesiaji, minta kepada aparat kepolisian untuk bisa segera mengungkap kasus penembakan ini. Meski pelaku hanya menggunakan senapan angin, tetap saja meresahkan.

“Dengan adanya kejadian ini, siskamling di lingkungan pecinan yang akhir-akhir ini vakum, akan diaktifkan lagi. Dan semoga tidak ada yang menjadi korban lagi,” katanya.

Jajaran Polres Magelang Kota kini terus melakukan pengamanan ketat pasca-penembakan diduga senapan angin di kawasan Pecinan, sejak 6 sampai 20 April 2016 lalu. Belasan personel bersenjata lengkap dikerahkan, termasuk mengintensifkan patroli. Bahkan dua tenda penjagaan sengaja dipasang di sepanjang trotoar pecinan.

Hingga kini polisi belum mengantongi identitas pelaku penembakan. Namun demikian, berdasarkan penyelidikan diyakini pelaku menggunakan senjata jenis senapan angin (air gun) untuk melukai para korbannya.

Hal itu terungkap setelah polisi menemukan satu butir peluru jenis gotri di kawasan pecinan. Juga keterangan para korban, karena rata-rata tidak mendengar suara tembakan pada saat kejadian. Setidaknya dalam lima hari, yakni tanggal 6, 9, 16, 18, dan 20 April, sembilan korban telah tertembak.

Jumlah korban terbanyak terjadi pada Senin (18/4) lalu, di mana selain seorang karyawan toko di pecinan dan siswi SMA, satu perempuan lagi yakni pedagang buah di Jalan Ikhlas juga terkena tembakan di bagian paha kanannya. (cr1/laz)