DWI AGUS/Radar Jogja
KAMPANYE BAHAYA NARKOBA: Kepala BNNK Jogja Saptohadi saat ceramah tentang Narkoba di depan peserta MOS di SMKN 7 Jogja, kemarin (27/7).
JOGJA – Badan Narkotka Nasional Kota (BNNK) Jogja memanfaatkan Masa Orientasi Siswa (MOS) sebagai kampanye bahaya narkoba. Tahun ini BNNK Jogja menerjunkan timnya untuk melakukan penyuluhan dan pendampingan di 24 sekolah tingkat SMP hingga SMA di Kota Jogja.
Kepala BNNK Jogja Saptohadi mengatakan, pendampingan ini berlangsung hingga 1 Agustus mendatang. Kegiatan ini telah diawali 23 Juli lalu di SMA Stella Duce 1 Jogja. Beragam edukasi mengenai ragam dan bahaya narkoba diberikan sebagai bekal dasar para siswa baru ini.
“Untuk SMP, kami menyasar siswa kelas VII, sedangkan SMA siswa kelas X. Utamanya adalah bahaya rokok, minuman keras, narkoba, perilaku hidup sehat, dan mengajak siswa menghidupkan satgas narkoba di lingkungan sekolah,” kata Saptohadi ditemui saat pendampingan di SMKN 7 Jogja, kemarin (27/7).
Menurutnya, Jogjakarta masuk dalam kawasan rawan peredaran narkoba. Seseuai catatannya, untuk tingkat Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ), telah menembus angka 62.029. Rentang usia korban narkoba antara usia 10 hingga 59 tahun, dan 40 persen di antaranya pelajar dan mahasiswa.
Sedangkan untuk angka pengguna dan pencandu narkoba di Kota Jogja berkisar 2,1 persen dari jumlah total. Sehingga ada sekitar 5.665 dengan 40 persen di antaranya adalah usia pelajar dan mahasiswa. Angka tersebut sangat mengkhawatirkan, terutama Jogja sebagai kota pelajar.
“Pelajar dan mahasiswa memiliki mobilitas tinggi. Lingkupnya pun tidak hanya di sekolah, sangat luas. Tapi dengan melakukan pendampingan di sekolah, setidaknya mampu memutus jalur ini,” katanya.
Saptohadi mengakui tidak mudah memantau narkoba di kalangan remaja. Berbagai aspek turut mempengaruhi penggunaan dan peredaran narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa. Mulai dari individu pengguna, sekolah, alumni dan lingkungan sekitar.
Salah satu upaya yang dilakukan oleh BNNK Jogja, adalah pendampingan MOS. Dia berharap seluruh sekolah di Jogjakarta mau menerima intervensi BNN. Tujuannya untuk membentengi bahaya dan pengaruh narkoba dari berbagai sudut.
“Memang terus melakukan sosialisasi dan pendekatan supaya sekolah mau menerima intervensi kegiatan kita. Karena kalau tidak mau dintervensi, tidak ada perubahan. Sehingga peran kepala sekolah, guru, siswa, para alumni dan lingkungan sekitar sangatlah penting,” ungkapnya.
Kendala lain, tidak adanya pagar pembatas secara realita antara sekolah dan lingkungan sekitar. Menurut Saptohadi, beberapa sekolah terlihat membaur, bahkan berada di tengah lingkungan warga. Meski ada nilai positif, namun sisi negatif dari fenomena ini.
Salah satunya sekolah tidak mengawasi secara langsung, saat siswa keluar sekolah. Adanya warung, angkringan membuat para siswa leluasa melanggar beberapa aturan. Salah satunya merokok di sekitar sekolah. Sehingga peran pun menjadi luas dan turut melibatkan warga sekitarnya.
“Buat kita dan sekolah cukup berat untuk pelajar tidak keluar dari lingkungan sekolah. Memang bagi warga sekitar merupakan peluang ekonomi. Tapi mereka juga harus aktif peduli atas apa yang dikonsumsi dan dilakukan pelajar diluar lingkungan sekolahnya,” pungkasnya. (dwi/jko/ong)