Lapisan Tanah Tipis, Air Rentan Pencemaran

JOGJA – Kawasan karst Gunungsewu di Gunungkidul mempunyai sumber daya air tanah sangat potensial. Hanya akses memompa air tanah ke permukaan membutuhkan waktu dan dana yang tidak se-dikit. Sebab, kedalaman air tanah bervariasi antara 50-100 meter di bawah permukaan tanah. Untuk menghindari krisis air di daerah itu, pemerintah dae-rah diminta melakukan upaya pemompaan sungai bawah tanah Bribin, Seropan, Baron, dan Ngobaran berikut membangun jaringan distribusi. “Karena tipisnya lapisan tanah, konsentrasi aliran di daerah epi-karst dan resapan air melalui ponor akuifer karst sangat rentan terhadap pencemaran,” kata M. Widyastuti pada ujian terbuka program Pascasarjana, Fakultas Geografi UGM di Fakultas Geo-grafi kampus setempat, akhir pekan lalu.
Disertasinya diberi judul Kajian Kerentanan Air Tanah terhadap Pencemaran di Daerah Karst Gunungsewu (Studi di Dae-rah Aliran Sungai Bawah Tanah Bribin Gunungkidul dan Wonogiri).Menurut Widyastuti, sungai bawah tanah (SBT) Bribin mempunyai potensi yang sangat besar sebagai sumber daya air baku, dan saat ini telah dimanfaatkan serta di-kembangkan untuk mendu-kung penyediaan air. Di sisi lain penggunaan lahan di atasnya mempunyai po-tensi tinggi sebagai sumber pencemar, seperti permukiman dengan sistem sanitasinya dan kegiatan pertanian. Oleh ka-rena itu penting sekali mel-indungi SBT Bribin untuk keberlanjutan fungsi baik kuantitas maupun kualitas pengelolaannya terhadap bahaya pencemaran. “Langkah penting yang bisa dilakukan untuk melin-dungi air tanah karst yaitu dengan zonasi kerentanan air tanah terhadap penceme-ran,” tambah dosen Fakultas Geografi UGM.Penelitian yang dilakukan Widyastuti ini menekankan pada kerentanan intrinsik air tanah terhadap pencemaran.
Metode COP (concentration of flow, overlaying layer, dan pre-cipitation) merupakan salah satu metode yang dikembang-kan untuk kajian kerentanan intrinsic akuifer karst (karbonat) di dalam COST 620.Hasil penelitian menunjuk-kan sebagian besar daerah penelitian mempunyai tingkat kerentanan yang sangat ting-gi, meskipun ada bagian wi-layah yang mempunyai ting-kat kerentanan rendah hing-ga sedang. Persentase luasan kerentanan air tanah di dae-rah penelitian untuk kelas kerentanan sangat tinggi 46,74 persen, tinggi 6,78 persen, sedang 24,79 persen, rendah 12,45 persen dan sangat ren-dah 6,39 persen. “Hasil zonasi kerentanan itu dikuatkan dengan validasi menggunakan hidrograf aliran, khemograf dan uji perunut yang menunjukkan respons aliran atau kualitas air tanah yang cepat terhadap imbuhan hujan atau zat perunut pada daerah yang mempunyai ke-rentanan tinggi,” terang Wi-dyastuti. (mar/laz/jiong)