Dispertahut Siap Diaudit

BANTUL – Selain penataan dan pembenahan tanaman buah, serta sarana infrastruktur ternyata masih ada pekerjaan rumah lain di Kebun Buah Mangunan yang harus segera mendapatkan penanganan. Salah satunya adalah kebera-daan puluhan ekor sapi. Sebab, dari waktu ke waktu puluhan ekor sapi ini ternhyata terus berkurang jumlahnya.
Ketua Komisi B Widodo me-nyebutkan, semula jumlah sapi di Kebun Buah Mangunan sebanyak 60 ekor. Puluhan ekor sapi ini dibeli pada tahun 2003. Hanya saja, saat ini tinggal 24 ekor sapi. “Terkait jumlahnya, sudah kami bahas bersama dinas kemarin,” terang Widodo, kemarin (28/12).
Menurutnya, drastisnya penurunan jumlah sapi ini karena dua faktor. Sebagian ada yang dijual, lalu tidak sedikit pula yang mati. Sebab, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter hewan, sapi-sapi tersebut memang sudah tua. “Dokternya merekomendasikan untuk segera menjual sapi-sapi yang tersisa sekarang,” ujarnya.
Nantinya, politikus Partai Gol-kar ini menuturkan, di Kebun Buah Mangunan akan diganti dengan sapi-sapi baru. Meski-pun begitu, Komisi B meminta Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) juga memper-baiki manajemen pengelola Kebun Buah Mangunan. Tuju-annya, salah satu destinasi pa-riwisata ini tak selalu merugi. “Jika perlu dirombak juga manajemennya. Nanti dari komisi juga akan terus mengawasinya,” tegasnya.
Terpisah, Plt Kepala Dispertahut Bantul Partogi Dame Pakpahan membenarkan jumlah sapi di Kebun Buah Mangunan berkurang drastis. Berda-sarkan informasi yang dipero-lehnya, jumlah sapi saat ini tinggal 24 ekor karena banyak yang mati. “Kami siap diaudit tentang itu,” tandasnya.Dia menambahkan, sebanyak 24 ekor sapi ini akan dijual se-muanya lantaran sudah berumur dan tak mampu bereproduksi. Pada proses lelang terakhir, 24 ekor sapi ini ditawar Rp 193 juta. “Nanti akan kami lakukan peremajaan lagi,” tambahnya.
Kebun Buah Mangunan tetap akan dipertahankan sebagai salah satu destinasi pariwisata. Meskipun sejumlah anggota DPRD pernah melontarkan wa-cana untuk menutup objek pa-riwisata alam pegunungan itu. “Di sana yang dijual tak hanya kebun buah. Di sana juga ada pemandangan alamnya,” terang Partogi Dame. (zam/din/jiong)