ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
SEPI: Terminal Muntilan dan Terminal Tidar Kota Magelang kemarin (19/11).
BANYAK calon penumpang terlantar di Terminal Tidar Kota Magelang, kemarin (19/11). Ini terjadi akibat sejumlah angkutan umum mogok beroperasi sebagai respons atas naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar Rp 2000 per liter. Mereka kecewa karena kesulitan men-dapatkan transportasi umum. Sebagian dari mereka terpaksa mencari alternatif kendaraan lain. Seperti ojek dan mobil plat hitam.
“Saya mau ke Artos Mal susah sekali, karena tidak ada angkutan. Ada angkot, tapi tidak sampai ke Artos. Saya tidak tahu kalau hari ini (kemarin) angkutan umum pada mogok. Ini jelas mengecewakan, karena saya terlantar di terminal,” kata Bunga, 32.
Karyawan Optik Guardian ini mengaku, menunggu hampir satu jam, tapi sama se-kali tidak ada bus atau minibus yang melin-tas. Ia terpaksa datang terlambat ke kan-tor. “Mau naik ojek, tapi tarifnya nuthuk alias lebih mahal dari biasanya. Sayang sekali harus seperti ini. Yang jelas, mogok ini meng-ganggu aktivitas kami,” keluhnya
Kekecewaan senada disam-paikan Aan, 34, warga Temang-gung. Ia mengaku susah men-cari angkutan umum untuk mewuju tempat kerja di Mungkid, Kabupaten Magelang. Ia be-rangkat bersama istri dan ber-henti di Terminal Tidar. Ke mudian melanjutkan perjalanan ke Mungkid. “Tadi pakai motor bareng istri yang kerja di Magelang. Saya ditinggal di terminal, sedangkan istri masuk kerja. Eh, ternyata di terminal tidak ada minibus ke Mungkid. Terpaksa, saya minta istri untuk izin dari kerja dan kembali ke terminal untuk mengantar ke Mungkid,” papar-nya.
Pekerja restoran ini mengaku, susah saat ada mogok seperti ini. “Bagaimana ya, kalau seperti ini susah juga. Waktu terbuang sia-sia di jalan. Kami hanya bisa berharap kondisi cepat pulih lagi,” ungkapnya.Rizki Pratama, 30, mengaku bingung karena tidak ada satu pun bus yang menuju Semarang dari Magelang. Ia mengaku ter-paksa harus naik truk bak ter-buka dari Gombong, bersama istrinya, Atik, 25, dan putranya Rizki yang berumur tiga tahun. “Pas sampai Terminal Magelang ternyata tidak ada bus dan ken-daraan lain. Saya bingung seka-rang mau bagaimana,” katanya. Ia bersama keluarga kecilnya itu masih menunggu di Terminal Magelang. Beberapa kali me nolak tawaran sopir mobil carteran yang bisa mengantarkannya ke rumahnya di Peterongan, Semarang.
“Saya mau naik kendaraan plat hitam, tetapi biayanya mahal sekali. Masak Rp 50 ribu per orang. Kalau terpaksa nanti cegat truk pasir saja,” imbuh Atik. Hal yang sama juga terjadi di beberapa titik di Kabupaten Magelang. Puluhan calon pe-numpang angkutan umum ter-lantar. Kebanyakan para pelajar, pedagang, dan PNS. Juga calon penumpang jurusan antarkota, banyak terlantar di sejumlah persimpangan di jalur utama Magelang-Jogjakarta. “Sudah lama menunggu ang-kutan, kok gak ada. Ternyata mogok. Padahal saya mesti masuk kerja. Jadinya ya gini, terlantar,” keluh Heriani, PNS di Pemda Magelang.
Perempuan yang setiap hari memanfaatkan angkutan umum ini terpaksa mengontak teman-nya sesama PNS untuk men-jemputnya di Terminal Muntilan. “Tinggal menunggu teman datang ke sini,” kata perempuan asal Srumbung ini.Beberapa calon penumpang terpaksa memanfaatkan jasa ojek yang juga menaikkan tarif. Sebagian lain, kebanyakan pe-lajar menumpang temannya yang mengendarai sepeda motor. Ada juga pelajar yang ikut kendaran pengangkut. Baik yang di kerahkan Polsek, Kodim, maupun Pemkab Magelang
Ketua Organda Kota Magelang Sriyanto mengatakan, pihaknya ikut mogok atau menghentikan sementara operasional angkutan umum baik AKDP maupun AKAP. Aksi ini guna menuntut pemerin-tah untuk memberi subsidi BBM bagi angkutan umum. “Kami ikut mogok, karena ka-watir kalau tetap beroperasi akan di-sweeping oleh awak angkutan di kota lain. Karenanya, peng-hentian operasional ini bersifat sementara. Artinya, kami tetap standby di jalan, sembari melihat situasi dan kondisi,” paparnya.
Kepala Terminal Tidar Kota Magelang Eko Priyono mengu-tarakan, meski ada penumpang yang terlantar, tetapi tidak sam-pai menimbulkan penumpukan. Karena ada beberapa penumpang yang memilih alternatif angku-tan lain. Seperti ojek dan mobil plat hitam. “Ojek dan mobil plat hitam ini biasa mangkal di terminal. Tarifnya berapa saya kurang tahu. Sejauh ini situasi di terminal kondusif, meski semua angkutan umum tidak beroperasi sementara,” katanya. (dem/ady/hes/ong)