DWI AGUS/RADAR JOGJA
PENUH TANTANGAN: Para nara sumber dalam diskusi seputar dunia perfilman, di Gedung Societet Taman, Senin (10/11). Diskusi membahas seluk beluk perkembangan sinema di Jogjakarta.

Berat, Penuhi Tuntutan Tuntunan

JOGJA – Diskusi menarik sepu-tar dunia perfilman, tersaji Senin siang (10/11) di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Bertajuk Perfiman Yogyakarta: Ekonomi Politik, diskusi mem-bahas seluk beluk perkembangan sinema di Jogjakarta.Diskusi mendatangkan dosen Jurusan Komunikasi UGM Novi Kurnia dan Co-Author Crisis dan Paradoks Film Indonesia Dyna Herlina S. Keduanya hadir mem-bahas bagaimana kacamata ekonomi dan politik dalam me-lihat dunia perfilman.
Novi menuturkan, sebuah wu-jud nasionalisme, tidak perlu dihadirkan dalam bentuk simbol fisik. Tapi, dapat dihadirkan da-lam wujud yang lebih besar, yaitu semangat. Jika sebuah film dapat mengusung semangat nasionalisme, simbol akan hadir dengan sendirinya.
“Tidak perlu lagi memperton-tonkan secara glamor, tapi se-cara riil. Hadir sebagai industri kreatif secara open minded. Jog-jakarta yang kaya akan simbol-simbol pun dapat dikemas melalui semangatnya,” katanya.Kekuatan yang perlu diting-katkan adalah gagasan yang bagus. Dirinya menilai wujud teknis perfilman di Jogjakarta sudah berjalan. “Tinggal bagai-mana konsep dan gagasan dapat menjadi sebuah film,” tandasnya.
Berpacu pada konsep industri kreatif, Novi mengajak untuk berpikir secara terbuka. Bagai-mana melihat sebuah fenomena, peka terhadap kondisi dan menge-mas menjadi sebuah ide. Tugas berikutnya, bagaimana pesan ini dapat termuat dalam sebuah film.”Dalam kenyataannya, teman seniman lintas disiplin sudah hidup layak dan bagus. Tinggal bagai-mana, punya gagasan yang bagus. Seniman ini merupakan dukungan teknis, lalu tinggal mencari pasar yang tepat,” ujarnya.
Ditegaskan, untuk menghasil-kan film yang berkualitas, juga tidak gampang. “Lingkungan yang beragam tentunya men-jadi tantangan yang besar. Per-bedaan persepsi dan pemak-naan penikmat film merupakan sebuah tantangan,” katanya.
Banyaknya tuntutan bahwa film harus menjadi tuntunan, sedikit mempengaruhi proses kreatif. Film yang awalnya hadir sebagai hiburanh pun bergeser menjadi guru pengalaman bagi yang me-nontonnya. Sang kreator film harus berpikir secara matang untuk memenuhi tuntutan ini.”Sejatinya film itu terlalu berat diberikan tugas menjadi tuntunan. Sensor ketat di film membuat para film maker diberi beban yang sangat berat. Menyediakan me-dia yang menyajikan tuntunan tak sekadar hiburan,” katanya.
Faktor lain penyebab adalah segmen penonton yang masih homogen. Dyna menyoroti per-kembangan film-film yang ber-kepentingan industri. Dimana saat sedang laku, maka berlom-ba-lomba membuat materi dan konsep film yang sama.
“Faktor ekonomi inilah yang membuat adanya film maker instan. Tanpa memikirkan kon-sep dan alur cerita, film-film ini keburu dilempar ke pasaran,” tandasnya. (dwi/jko/ong)