SLEMAN-Apa jadinya jika siswa setingkat sekolah dasar beradu kreasi dan prestasi dengan murid-murid menengah atas. Itu tersaji ajang kompetisi seni dan olahraga madrasah (Aksioma) 2014 yang digelar Kantor Kemenag Sleman kemarin (1/10).
Sebanyak 223 peserta dari MI, MTs, dan MA se Sleman beradu kreasi menunjukkan potensi, yakni seni dan olahraga. “Kegiatan ini untuk memberi ruang bagi siswa, selain pendidikan kagamaan yang menjadi agenda utama di sekolah madrasah,” ujar Kepala Kemenag Muhammad Lutfi Hamid di sela kegiatan di MTsN 1 Sleman.
Aksioma sekaligus menjadi ajang sosialiasi bagi masyarakat mengenai eksistensi sekolah madrasah. Itu untuk menepis paradigma yang telanjur membumi di benak masyarakat. Yakni memandang madrasah sebatas sekolah untuk pendidikan keagamaan. “Madrasah itu banyak potensi. Bahkan bisa menjadi tempat tumbuh kembang minat dan bakat siswa,” ujar Lutfi.
Melalui lomba yang mempertandingkan 11 cabang olahraga itu, Kemenag ingin menciptakan madrasah sebagai salah satu destinasi pendidikan yang potensial. Setara dengan sekolah umum.
Ketua Panitia Aksioma Abdul Haris mengatakan, melalui ajang potensi itu, menunjukkan siswa madrasah juga mampu bersaing dengan siswa sekolah umum. Baik dari akademik maupun bidang lain, di tingkat lokal, nasional, hingga internasional.
Salah satu contohnya, prestasi siswa MAN III Jogjakarta yang menjadi juara olimpiade sains Fisika tingkat DIJ. “Setiap juara dalam aksioma bakal menjadi wakil Sleman di even serupa tingkat Provinsi DIJ,” jelas Haris.
Selain di MTsN 1 Sleman, aksioma dihelat di Stadion Tridadi, GOR Pangukan, dan DPRD Sleman. (yog/din)