Belum Terdistribusi, Hambat KBM
SLEMAN – Kurikulum pendidi-kan 2013 tak hanya memusingkan para siswa sekolah. Para orang tua atau wali murid pun ikut repot. Terlebih bagi siswa dari keluarga miskin. Para siswa belum mene-rima semua buku materi ajar. Konsekuensinya, mereka harus men-download sendiri dari por-tal (domain) Kementerian Pen-didikan dan Kebudayaan. “Secara tak langsung, siswa harus punya laptop, netbook, atau setidaknya gajet yang bisa terkoneksi internet,” keluh Su-haris, 40, warga Depok. Orang tua siswa sekolah negeri di Sle-man itu tak terlalu menyoal tentang penyediaan gajet.
Masalah lain berupa sinyal internet. Keterbatasan kapasitas bandwidth di sekolah anaknya menuntut pegawai negeri sipil itu terpaksa memasang jaringan wifi berbayar di rumahnya. Itu-pun belum menyelesaikan per-soalan. Saat di luar rumah, anaknya dan teman-teman se-kolahnya harus rajin berburu kawasan hotspot gratis untuk sekedar mengunduh data soft file materi ajar. “Kalau mau cepat, ya ke warnet. Itu juga bayar lagi,” keluhnya kemarin.
Kekhawatiran lain disampaikan Sholichin, 49, yang anaknya se-kolah di SMK wilayah Minggir. Dia lebih menyoroti dampak sosial dari maraknya gajet ber-basis internet. Anak sekolah menjadi tak ada batasan untuk membawa handphone atau tablet android dan i-phone ke sekolah. Di satu sisi, anak sekolah lebih praktis dan cepat saat butuh data materi ajar atau sekadar mencari referensi di website tertentu untuk mendukung ke-giatan belajar mengajar (KBM). “Tapi sisi lain yang harus di-ingat, anak jadi bebas mengak-ses website apa saja tanpa kon-trol. Bisa saja mereka curi-curi untuk mengakses website porno. Bahaya ini,” paparnya.
Kepala Dinas Pendidikan, Pe-muda, dan Olahraga Sleman Arif Haryono mengakui, materi ajar berbasis kurikulum 2013 masih dianggap menyulitkan sebagian siswa dan wali siswa. Belum ter-distribusinya buku ajar, proses pembelajaran menjadi terhambat. Solusinya, Arif meminta pihak sekolah untuk mengunduh soft file materi ajar melalui domain kementerian. Lalu mencetak file tersebut menjadi sebuah buku dan diperbanyak sesuai jumlah siswa. “Itu bisa meng-gunakan dana BOS,” katanya.
Arif juga mengimbau tiap se-kolah menambah kapasitas bandwidth demi mempermudah para siswa mengakses internet. Saat ini, baru siswa sekolah da-sar yang telah 100 persen me-nerima distribusi buku ajar kurikulum 2013. Untuk siswa SMP, dari enam sekolah yang menjadi pilot pro-ject, belum satu pun menerima buku. Sedangkan tingkat SMA/SMK baru terdistribusi 35 per-sen dari total 42 SMA dan 55 SMK. (yog/laz/ty)