KEMAMPUAN Cahyadi dalam melihat berbagai peluang bisnis memang sudah dirasakan olehnya sejak masa kuliah. Meski secara akademik, ilmu yang dipelajari tidak ada kaitannya dengan bisnis. Kuliah yang ditempuh pun bukanlah bidang yang berkaitan dengan bisnis atau ekonomi. Bidang akademik yang ditempuh kala itu adalah Sastra Jepang dan Ilmu Pemerintahan. “Sejak kuliah sudah jalani bisnis. Tapi ketika itu bikin lantas bangkrut, bangun lagi bangkrut lagi,” ungkapnya.Dari situ dirinya tak berhenti belajar tentang bisnis. Momentumnya untuk benar-benar terjun di dunia bisnis terjadi ketika dia bergabung dalam perkumpulan untuk peningkatan usaha kecil (Pupuk) DIJ pada tahun 2004. Di organisasi Pupuk inilah dia menemui ilmu dalam berbisnis.
“Meski hanya satu setengah tahun saya dapat belajar karena dimentori oleh pemimpin-pemimpin di Pupuk,” kenangnya.Dari ilmu yang didapat tersebut, dia memutuskan untuk menceburkan ke usaha kecil dan menengah (UKM). Alasannya, potensi UKM yang dimiliki Indonesia sangat besar dan merupakan sektor yang dapat menyejahterakan rakyat. “Kalau mau Indonesia maju, berdikari, sejahtera mestinya UKM yang didorong,” terangnya. (bhn/ila)